Tiba-tiba pengen nulis tentang Jatimulyo 21 (ngg, lebih dikenal dengan nama keren JM 21) gara-gara liat friendsternya Selvy (alis Seleput ;p, peace Vie) yang dihiasi dengan foto dia, Fely, mba Di, ma mas Avri (well, the last one is not member included).
Kalau enggak kuliah di Semarang dan kakak enggak duluan ngekos disana, mungkin sampai sekarang aku masih jadi manusia normal karena enggak kenal sama anak JM 21 (ups, bukan berarti loh..). Mba-mba kost yang asik-asik, teman-teman sekost seangkatan beda jurusan yang bisa diajak jalan bareng, sampe adik kost yang cs selalu. Kost cewek yang terkenal karena ceweknya lucu-lucu (hehe, narcis boleh dunk), dan garasinya yang enggak pernah sepi tiap malam minggu. Rahasia enggak akan pernah jadi rahasia disana, saking sempitnya dunia, sampe semua orang akhirnya tau. Tapi that’s fine, karena kata semua hanya menunjuk pada ruang lingkup JM 21.
Aduh, kangen berat nie, me, Dewita, Fely, Selvy, mba Diah, mba Lintang, mba Dian, mba Evi, mba Onge, mba Fe, kakak, mba Wiwit, mba Netty, Dewi, Ethu, sama temen-temen lain yang pernah datang dan pergi di JM21. Pasti seru kalau kapan-kapan kita main bareng lagi (DUFAN, maybe?).
Still remember, waktu aq kecelakaan dulu dan mba-mba kos di JM21 pada marahin senior-seniorku (hehe, emang enak, lagian hari gini masih jaman ya ospek, so last year deh ;D), trus pada bawain karton gede lengkap dengan tanda-tangan dan tulisan cepet sembuhnya. Trus waktu temen-temen main di kampus aq lagi sibuk dengan pasangan masing-masing, selalu ada pasangan tidak jomblo di kost yang rela mengangkut jomblo-jomblo bahagia di malam minggu untuk turut serta ngerecokin pacaran mereka. Paling seru, waktu pedekate ma hunny, semua anak kost ikut rusuh ngebantuin, padahal enggak ada yang kenal ma hunny, but i don’t know why, it’s worked. Terus, waktu aq ulang taun, waktu seminar KP, waktu tau baru, dan waktu-waktu berkesan lainnya.
But, selalu ada akhir untuk setiap awal. Pada masanya, orang-orang akan pergi, lulus, pindah. Tinggal rumah tingkat dua pager biru (atau ijo ya, lupa), tembok PINK! (ato krem ya, lupa), jadi saksi bisu kebandelan masa remaja kami. (ngg, katakanlah masa transisi dari remaja ke dewasa, deal?). Walau kontak kadang hilang, walau banyak yang sudah terpisah dengan selat, walau beberapa dari kami sudah melingkarkan cincin di jari manis, but for sure, cerita JM21 enggak akan pernah ilang.